‘Pabila Cinta Datang…
Pasti Karena Malaikat Cinta Yang Melesatkan Anak Panahnya Pada Hati 2 Sejoli Yang Kemudian Saling Mecinta…
Lalu Apa Yang Khan Terjadi Pabila Cinta Datang Tanpa Adanya Malaikat Cinta…?!
Dan Pabila Rindu Datang Menjelang…
Apa Yang Khan Terjadi?
Akankah Mendustai Perasaan Diri Sendiri?
Ataukah Menyadari Apa Yang Sebenarnya Terjadi Pada Perasaan Itu?
Perasaanyang Di Mana Hanya Bisa Di Mengerti Oleh Dua Sejoli Yang Sudah Ditakdirkan Dan Tak Khan Terpisahkan Lagi Walau Hanya Untuk Sekejap Saja…
Tapi Mengapa Saat Kebimbangan Datang Menghampiri, Perasaan Ini Tak Bisa Tetap Kukuh Pada Apa Yang Telah Ditentukan Oleh Hati Kecil Ini Sebelum Mengenal Apa Itu Cinta?
Saat Belum Mengenal Apa Itu Rindu?
Dan Apakah Di Dunia Ini Sudah Tidak Ada Lagi Malaikat Yang Menjaga Kesucian Cinta?
Apakah Di Dunia Ini Sudah Tak Ada Lagi Malaikat Yang Menjaga Ketulusan Cinta?
Apakah Di Dunia Ini Sudah Tidak Ada Lagi Malaikat Yang Menjaga Kemurnian Cinta Dua Sejoli Yang Sudah Ditakdirkan?
Semua Tanya Yang Ada Tak Pernah Ada Jawabnya.
Tapi Yakinlah Bahwa Semua Itu ‘Khan Ada Jawabnya Pabila Kisah Kecil Mengenai Cinta Ini Telah Menemui Akhirnya.
Dimana Dua Sejoli Itu Akan Bersatu Dan Tak Akan Pernah Lagi Terpisahkan Untuk Selamanya…
Senin, 12 Juli 2010
Minggu, 11 Juli 2010
Chat 12 Desember 2009
Curhatan zaman jadul. Nggak usah terlalu di bahas. Just read & enjoy the atmosphere...
--------------------------------------------------------------
Terkadang ada orang yg lebih mencintai kesendirian daripada keramaian…
Terkadang ada orang yg lebih menyukai diam daripada bicara…
Namun bagaimana jika ada orang yg lebih mencintai keramaian tapi selalu berada dalam kesendirian…
Namun bagaimana jika ada orang yg ingin bicara namun selalu terjebak dalam diam…
Adakah kau mengerti perasaan itu?
Adakah kau merasakan adanya ia?
Adakah kau tahu kalau itu benar-benar ada?
Bukannya ia sombong…
Bukannya ia keras kepala…
Bukannya ia egois…
Bukannya ia seperti yg kau pikirkan…
Namun terkadang ada beberapa hal yg tak bisa meluncur bebas dari mulutnya yg suka kau nilai bermulut tajam itu…
Karena kadang lidahnya kelu utk mengungkapkan apa yg ada dalam hatinya…
Karena kadang dia tidak ingin melukai orang yg mereka nilai telah melukai mereka lebih dalam…
Karena kadang dia memang tak pandai merangkai kata dgn mulutnya…
Karena kadang dia lebih suka merangkai kata dgn tulisan yg dinilai bisa lebih menerima apapun yg dia katakan & tanyakan walau dia tahu media yg dia gunakan tidak bisa menanggapi atau pun menjawab semua kata & tanyanya…
Karena kadang ia tak selalu sama dgnmu…
Karena kadang walau dia selalu berusaha menyesuaikan diri dgn lingkungannya, dia selalu merasa tidak diterima…
Karena kadang dia selalu merasa tidak pantas berada didekatmu atau siapapun…
Karena kadang itulah yg diajarkan padanya…
Karena kadang itulah sikap yg selalu dia lihat dari keluarganya…
Hingga dia tidak tahu…
Hingga dia tidak peka…
Hingga dia buta…
Hingga dia tuli…
Hingga dia tak mengerti dgn apa yg sebenarnya terjadi…
Dia selalu saja bertanya…
Kenapa dia seperti ini…
Kenapa dia seperti itu…
Kadang dia selalu iri…
Ingin seperti orang lain…
Ingin sepertimu…
Namun ia sadar, ia tak bisa…
Karena jaraknya & kau terlalu jauh…
Karena latar belakangnya & kau terlalu jauh berbeda…
Karena pola pendidikan yg diterapkan keluarganya & kau berbeda…
Karena terlalu banyak perbedaan yg tak bisa dia ungkapkan & lebih memilih utk memendamnya karena dia tak pernah tahu akan pada siapa ia mengungkapkan semua keresahan hatinya karena ia sudah tak memiliki rasa kepercayaan pada orang setelah rasa percayanya dikhianati oleh temannya yg lain…
Dan apakah kau mengerti?
Dan apakah kau bisa merasakannya?
Dan apa yg kau katakan apabila kau tahu apa yg sebenarnya terjadi padanya…
Dan apa yg kau pikirkan apabila kau tahu apa yg sebenarnya terjadi padanya…
Masihkah kau berpikir kalau ia tak pernah mau mengerti semua tentangmu?
Masihkah kau berpikir kalau ia tak punya perasaan saat ia menyakiti hatimu?
Masihkah kau berpikir kalau hatinya terbuat dari batu saat kau menilainya telah mengkhianati persahabatannya denganmu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat ia lebih memilih kesendirian daripada kembali bersamamu atau bersama yg lain hanya utk menyakiti hatimu lagi utk ke sekian kalinya?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat ia lebih memilh menutup pintu hatinya & tak terlalu dekat dgn orang lain jika hal yg sama akan terjadi kembali pada orang yg disayanginya bagai saudara sendiri itu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia lebih memilih mati daripada terus menerus mendengar kau & orang-orang yg selalu kau sebut sahabatmu selalu menyudutkannya padahal dia tak menyudutkanmu karena dia menyayangimu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia lebih memilih diam & menjauhi orang lain daripada melihatmu membicarakan kesalahannya pada semua orang yg kau kenal?
Dan masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia memilih membunuh dirinya sendiri daripada melihatmu & orang-orang yg kau anggap sahabatmu itu terluka lagi karenanya?
--------------------------------------------------------------
Terkadang ada orang yg lebih mencintai kesendirian daripada keramaian…
Terkadang ada orang yg lebih menyukai diam daripada bicara…
Namun bagaimana jika ada orang yg lebih mencintai keramaian tapi selalu berada dalam kesendirian…
Namun bagaimana jika ada orang yg ingin bicara namun selalu terjebak dalam diam…
Adakah kau mengerti perasaan itu?
Adakah kau merasakan adanya ia?
Adakah kau tahu kalau itu benar-benar ada?
Bukannya ia sombong…
Bukannya ia keras kepala…
Bukannya ia egois…
Bukannya ia seperti yg kau pikirkan…
Namun terkadang ada beberapa hal yg tak bisa meluncur bebas dari mulutnya yg suka kau nilai bermulut tajam itu…
Karena kadang lidahnya kelu utk mengungkapkan apa yg ada dalam hatinya…
Karena kadang dia tidak ingin melukai orang yg mereka nilai telah melukai mereka lebih dalam…
Karena kadang dia memang tak pandai merangkai kata dgn mulutnya…
Karena kadang dia lebih suka merangkai kata dgn tulisan yg dinilai bisa lebih menerima apapun yg dia katakan & tanyakan walau dia tahu media yg dia gunakan tidak bisa menanggapi atau pun menjawab semua kata & tanyanya…
Karena kadang ia tak selalu sama dgnmu…
Karena kadang walau dia selalu berusaha menyesuaikan diri dgn lingkungannya, dia selalu merasa tidak diterima…
Karena kadang dia selalu merasa tidak pantas berada didekatmu atau siapapun…
Karena kadang itulah yg diajarkan padanya…
Karena kadang itulah sikap yg selalu dia lihat dari keluarganya…
Hingga dia tidak tahu…
Hingga dia tidak peka…
Hingga dia buta…
Hingga dia tuli…
Hingga dia tak mengerti dgn apa yg sebenarnya terjadi…
Dia selalu saja bertanya…
Kenapa dia seperti ini…
Kenapa dia seperti itu…
Kadang dia selalu iri…
Ingin seperti orang lain…
Ingin sepertimu…
Namun ia sadar, ia tak bisa…
Karena jaraknya & kau terlalu jauh…
Karena latar belakangnya & kau terlalu jauh berbeda…
Karena pola pendidikan yg diterapkan keluarganya & kau berbeda…
Karena terlalu banyak perbedaan yg tak bisa dia ungkapkan & lebih memilih utk memendamnya karena dia tak pernah tahu akan pada siapa ia mengungkapkan semua keresahan hatinya karena ia sudah tak memiliki rasa kepercayaan pada orang setelah rasa percayanya dikhianati oleh temannya yg lain…
Dan apakah kau mengerti?
Dan apakah kau bisa merasakannya?
Dan apa yg kau katakan apabila kau tahu apa yg sebenarnya terjadi padanya…
Dan apa yg kau pikirkan apabila kau tahu apa yg sebenarnya terjadi padanya…
Masihkah kau berpikir kalau ia tak pernah mau mengerti semua tentangmu?
Masihkah kau berpikir kalau ia tak punya perasaan saat ia menyakiti hatimu?
Masihkah kau berpikir kalau hatinya terbuat dari batu saat kau menilainya telah mengkhianati persahabatannya denganmu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat ia lebih memilih kesendirian daripada kembali bersamamu atau bersama yg lain hanya utk menyakiti hatimu lagi utk ke sekian kalinya?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat ia lebih memilh menutup pintu hatinya & tak terlalu dekat dgn orang lain jika hal yg sama akan terjadi kembali pada orang yg disayanginya bagai saudara sendiri itu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia lebih memilih mati daripada terus menerus mendengar kau & orang-orang yg selalu kau sebut sahabatmu selalu menyudutkannya padahal dia tak menyudutkanmu karena dia menyayangimu?
Masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia lebih memilih diam & menjauhi orang lain daripada melihatmu membicarakan kesalahannya pada semua orang yg kau kenal?
Dan masihkah kau berpikir seperti yg kau pikirkan saat dia memilih membunuh dirinya sendiri daripada melihatmu & orang-orang yg kau anggap sahabatmu itu terluka lagi karenanya?
Cuma si Aa doang
Zaman jadul (sebenernya ga jadul-jadul amat sih), ada kakak sepupu V yg mo tunangan. Nah, tunangannya itu di rumah V yg ga kepake. En kebeneran yg ngedandanin tuh kakek ma bibi V. Pas make up-nya dah beres, V pun nanya ma sodara V itu.
V : Dhe, ntar kalo merit jangan pake kacamata, ya.
Bibi : Ya, iyalah. Masa mo merit pake kacamata.
V : Bi, Minusnya 5.
Bibi : Oh, sorry.
Ga lama, acara tunangan pun di mulai. Pas selesai, sodara-sodara v yg ngumpul pun mulai ngerubungin sepasang sejoli itu, nggak ketinggalan V tentunya. Dan disana ada adhe sepupu V yg dah merit duluan ngajak ngobrol, sedang V jadi pendengar aza.
Adhe Sepupu : Dhe, pas tadi yg keliatan siapa aza? (Dia matanya normal. Ga kayak V ma kakak sepupu V)
Kakak Sepupu : Cuma si Aa doang. (Innocent)
Adhe Sepupu : Serius loe?
Kakak Sepupu : (Ngangguk innocent) He-eh.
Adhe Sepupu : Mangnya si uwa ga keliatan?
Kakak Sepupu : Nggak (Masih Innocent)
Adek Sepupu : (Bengong sejenak kemudian ketawa)
V : (Pasang muka polos padahal dalam hati dah ketawa ngakak)
Iyalah cuma calon suaminya doang yg keliatannya soalnya badannya itu tinggi besar. Sementara orang tua ma calon mertuanya badannya ga sebesar si cang calon suami. Dan inget minus parah yg dideritanya, membuatnya harus make kacamata usai acara tunangannya karena buat ngambil minum aza dia lumayan kesusahan. Matanya sampe sipit-sipit ga jelas cuma buat nyari benda bening yg diisi ma air itu.
Poor her.
V : Dhe, ntar kalo merit jangan pake kacamata, ya.
Bibi : Ya, iyalah. Masa mo merit pake kacamata.
V : Bi, Minusnya 5.
Bibi : Oh, sorry.
Ga lama, acara tunangan pun di mulai. Pas selesai, sodara-sodara v yg ngumpul pun mulai ngerubungin sepasang sejoli itu, nggak ketinggalan V tentunya. Dan disana ada adhe sepupu V yg dah merit duluan ngajak ngobrol, sedang V jadi pendengar aza.
Adhe Sepupu : Dhe, pas tadi yg keliatan siapa aza? (Dia matanya normal. Ga kayak V ma kakak sepupu V)
Kakak Sepupu : Cuma si Aa doang. (Innocent)
Adhe Sepupu : Serius loe?
Kakak Sepupu : (Ngangguk innocent) He-eh.
Adhe Sepupu : Mangnya si uwa ga keliatan?
Kakak Sepupu : Nggak (Masih Innocent)
Adek Sepupu : (Bengong sejenak kemudian ketawa)
V : (Pasang muka polos padahal dalam hati dah ketawa ngakak)
Iyalah cuma calon suaminya doang yg keliatannya soalnya badannya itu tinggi besar. Sementara orang tua ma calon mertuanya badannya ga sebesar si cang calon suami. Dan inget minus parah yg dideritanya, membuatnya harus make kacamata usai acara tunangannya karena buat ngambil minum aza dia lumayan kesusahan. Matanya sampe sipit-sipit ga jelas cuma buat nyari benda bening yg diisi ma air itu.
Poor her.
Sabtu, 10 Juli 2010
Sanggup Ga Nikah
Kemaren tuh V di suruh buat ngisi form identitas siswa punya adhe V yg ceritanya taon ini mo sekolah di SMA V dulu. Sebelumnya V daftar ke SMA tuh di kolektifin ma sodara V yg ngerangkap jadi guru. jadi V ga tahu kalo harus ngisi form kayak gitu.
Nah, di form itu ada satu pertanyaan yg bikin V ma Mama ketawa terbahak-bahak bacanya. Mungkin pertanyaannya emang serius. Banget malah. Tapi yg bikin V ma Mama ketawa adalah nginget umur adhe V itu. V pun ngebahas pertanyaan itu ma Mama.
V : "Ma, ada pertanyaan aneh nih."
Mama : "Apa?"
V : "Katanya apa siswa/i sanggup untuk tidak menikah selama proses pendidikan berlanjut."
Delay bentar.
V : "Gimana nih, Ma? Coretnya yg sanggup atau yg tidak sanggup nih." (Sambil nahan ketawa. Sok nanya, padahal dah tahu jawabannya apa)
Mama : (Senyum-senyum geje karena nahan ketawa)
V : "Ma, coret yg mana?" (Still nahan ketawa)
Mama : (Senyum gejenya makin kentara. Udah mulai ga bisa nahan ketawa lagi)
Adhe V : "Minggu..."
Tiba-tiba adhe V nongol dari atas & langsung bilang kayak gitu. Kontan V + Mama langsung ketawa ngakak ngedenger jawabannya itu. Sampe meja makan yg jadi alas tulis, V pukul-pukul saking nggak bisa nahan ketawa. Dia pun bingung.
Adhe V : "Pada kenapa sih? kok ketawa gitu?" (sambil nahan ketawa karena ngeliat kita ketawa geje)
V : "Ma, katanya si Becky (panggilan V ke adhe V) mo kawin hari minggu ntar." (sambil ketawa ngakak)
Mama : "He-eh. Kawinin aja ntar minggu."
Adhe V : "Apa sih ngebahas kawin-kawin? Siapa yg mo kawin?"
V (nunjuk ke adhe V) : "Elo."
Adhe V : "Hah?! Gue?! Maksud Loe?"
V pun ngejelasin pangkal masalahnya. Akhirnya dia pun ikut ketawa, walo ga ngakak kayak V ma Mama V.
V : "Jadi yg di coret yg sanggup, ya? jadi jawabannya ga sanggup soalnya ntar minggu mo kawin katanya." (senyum jahil yg diamini Mama)
Adhe V : "Teteh!!!"
Dan V ma Mama pun ngakak bareng lagi.
Nah, di form itu ada satu pertanyaan yg bikin V ma Mama ketawa terbahak-bahak bacanya. Mungkin pertanyaannya emang serius. Banget malah. Tapi yg bikin V ma Mama ketawa adalah nginget umur adhe V itu. V pun ngebahas pertanyaan itu ma Mama.
V : "Ma, ada pertanyaan aneh nih."
Mama : "Apa?"
V : "Katanya apa siswa/i sanggup untuk tidak menikah selama proses pendidikan berlanjut."
Delay bentar.
V : "Gimana nih, Ma? Coretnya yg sanggup atau yg tidak sanggup nih." (Sambil nahan ketawa. Sok nanya, padahal dah tahu jawabannya apa)
Mama : (Senyum-senyum geje karena nahan ketawa)
V : "Ma, coret yg mana?" (Still nahan ketawa)
Mama : (Senyum gejenya makin kentara. Udah mulai ga bisa nahan ketawa lagi)
Adhe V : "Minggu..."
Tiba-tiba adhe V nongol dari atas & langsung bilang kayak gitu. Kontan V + Mama langsung ketawa ngakak ngedenger jawabannya itu. Sampe meja makan yg jadi alas tulis, V pukul-pukul saking nggak bisa nahan ketawa. Dia pun bingung.
Adhe V : "Pada kenapa sih? kok ketawa gitu?" (sambil nahan ketawa karena ngeliat kita ketawa geje)
V : "Ma, katanya si Becky (panggilan V ke adhe V) mo kawin hari minggu ntar." (sambil ketawa ngakak)
Mama : "He-eh. Kawinin aja ntar minggu."
Adhe V : "Apa sih ngebahas kawin-kawin? Siapa yg mo kawin?"
V (nunjuk ke adhe V) : "Elo."
Adhe V : "Hah?! Gue?! Maksud Loe?"
V pun ngejelasin pangkal masalahnya. Akhirnya dia pun ikut ketawa, walo ga ngakak kayak V ma Mama V.
V : "Jadi yg di coret yg sanggup, ya? jadi jawabannya ga sanggup soalnya ntar minggu mo kawin katanya." (senyum jahil yg diamini Mama)
Adhe V : "Teteh!!!"
Dan V ma Mama pun ngakak bareng lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)